SURABAYA –PORTAL SATU ID Semangat menjaga warisan leluhur, mempererat persaudaraan, dan melestarikan nilai-nilai budaya kembali mengemuka dalam Silaturahmi Akbar Keluarga Besar Pohjentrek Pasuruan yang digelar di Omah Budaya Ki Sunaryo Umarsidik, Jalan Diponegoro Nomor 66 Surabaya, pada Minggu Kliwon (7/6/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan 75 tahun wafatnya Mbah Umarsidik tersebut berlangsung penuh khidmat, hangat, dan sarat makna, sekaligus menjadi momentum penting untuk memperkuat ikatan kekeluargaan lintas generasi.
Sejak pagi hari, ratusan anggota keluarga besar Pohjentrek dari berbagai daerah mulai berdatangan memenuhi lokasi acara. Hadir pula tokoh masyarakat, budayawan, pemerhati sejarah, serta sejumlah tamu undangan yang memiliki kedekatan historis dan emosional dengan keluarga besar Pohjentrek. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa nilai-nilai yang diwariskan para leluhur masih hidup dan terus dijaga hingga saat ini.
Suasana kekeluargaan terasa begitu kental sepanjang kegiatan berlangsung. Para peserta memanfaatkan momentum tersebut untuk mempererat tali silaturahmi, berbagi cerita, mengenang perjalanan keluarga, serta memperkuat hubungan yang telah terjalin selama puluhan tahun. Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan akar budaya keluarganya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua LSM Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur, Heru Satriyo, bersama istrinya, Dwi Yulis. Kehadiran keduanya mendapat sambutan hangat dari keluarga besar Pohjentrek sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Peringatan 75 tahun wafatnya Mbah Umarsidik menjadi momen refleksi yang mendalam bagi seluruh peserta. Sosok Mbah Umarsidik dikenang sebagai figur yang memiliki peran penting dalam membangun kehidupan sosial masyarakat dengan mengedepankan nilai kebersamaan, gotong royong, kepedulian sosial, dan persaudaraan. Keteladanan beliau hingga kini masih menjadi pedoman hidup bagi keluarga besar dan masyarakat yang mengenalnya.
Dalam rangkaian acara, doa bersama dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur atas warisan nilai-nilai kehidupan yang telah ditinggalkan almarhum. Suasana khusyuk menyelimuti seluruh peserta ketika doa-doa dipanjatkan untuk mengenang jasa dan pengabdian Mbah Umarsidik selama masa hidupnya.
Berbagai kisah perjuangan dan perjalanan hidup Mbah Umarsidik juga kembali diceritakan oleh para sesepuh keluarga. Cerita-cerita tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah keluarga bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang mampu membentuk karakter generasi penerus agar tetap berpegang pada nilai-nilai moral dan budaya.
Omah Budaya Ki Sunaryo Umarsidik yang menjadi lokasi kegiatan memiliki arti penting bagi keluarga besar Pohjentrek. Selain menjadi tempat berkumpul dan bersilaturahmi, lokasi tersebut juga menjadi pusat pelestarian sejarah keluarga serta ruang budaya yang selama ini berperan dalam menjaga berbagai tradisi dan nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam kesempatan itu, Heru Satriyo menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang menurutnya memiliki nilai strategis dalam memperkuat hubungan antargenerasi dan menjaga kesinambungan budaya bangsa. Ia menegaskan bahwa penghormatan terhadap leluhur merupakan bagian dari upaya membangun karakter masyarakat yang kuat, berintegritas, dan memiliki identitas budaya yang jelas.
Menurutnya, keluarga yang mampu menjaga sejarah dan menghargai jasa para pendahulunya akan memiliki pondasi yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Oleh sebab itu, kegiatan silaturahmi keluarga seperti ini perlu terus dipelihara dan diwariskan agar generasi muda tidak kehilangan jati diri serta tetap memahami akar budayanya.
Lebih jauh, Heru Satriyo menilai bahwa nilai-nilai yang diwariskan Mbah Umarsidik sangat relevan dengan kondisi saat ini. Semangat gotong royong, persatuan, kepedulian sosial, dan kebersamaan merupakan modal penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.
Selain menjadi ajang mengenang sosok yang dihormati, kegiatan ini juga menjadi wadah mempererat hubungan keluarga besar Pohjentrek yang kini tersebar di berbagai wilayah. Kebersamaan yang tercipta sepanjang acara menunjukkan bahwa ikatan persaudaraan yang diwariskan para leluhur masih menjadi kekuatan utama dalam menjaga keharmonisan keluarga.
Bagi keluarga besar Pohjentrek, peringatan 75 tahun wafatnya Mbah Umarsidik bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga meneguhkan komitmen bersama untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan hubungan kekeluargaan, pelestarian budaya, serta pendidikan karakter bagi generasi muda.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya dan nilai kekeluargaan merupakan aset berharga yang harus terus dijaga. Melalui silaturahmi akbar ini, keluarga besar Pohjentrek menunjukkan bahwa warisan leluhur akan tetap hidup selama dikenang, dipelajari, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, ramah tamah, dan saling bertukar harapan untuk kesehatan, keberkahan, serta kemajuan keluarga besar Pohjentrek. Kehangatan yang tercipta sepanjang kegiatan menjadi simbol bahwa nilai persaudaraan, penghormatan kepada leluhur, dan semangat kebersamaan akan terus diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya sebagai fondasi kuat dalam menjaga jati diri dan persatuan keluarga (Dd).






