Home / PEMERINTAHAN / Panen 10 Ton Jagung di Rutan Situbondo, Kakanwil Ditjenpas Jatim Buktikan Pembinaan Bisa Menghasilkan dan Memberdayakan Warga Binaan

Panen 10 Ton Jagung di Rutan Situbondo, Kakanwil Ditjenpas Jatim Buktikan Pembinaan Bisa Menghasilkan dan Memberdayakan Warga Binaan

SITUBONDO, —PORTAL SATU ID Ketahanan pangan menjadi salah satu jalan strategis untuk membangun kemandirian warga binaan. Hal ini tercermin dalam panen raya jagung varietas DEKALB 95R di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Situbondo, yang diperkirakan menghasilkan 10 ton jagung dari lahan seluas satu hektare. Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Jawa Timur, Kusnali, sekaligus dirangkaikan dengan pemberian premi kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang berkontribusi dalam kegiatan pertanian.

Berlangsung pada Kamis (15/10/2026), kegiatan ini menegaskan bahwa pembinaan di lingkungan pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan masa pidana, tetapi juga pada pengembangan keterampilan produktif, pembentukan tanggung jawab, dan persiapan warga binaan untuk kembali menjalani kehidupan secara mandiri di tengah masyarakat.

Panen raya tersebut turut dihadiri Kepala/Administratur Perum Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, perwakilan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Situbondo, serta para kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan wilayah koordinasi Jember.

Empat Hektare Lahan Jadi Modal Penguatan Ketahanan Pangan

Dari satu hektare lahan yang dipanen, produksi jagung diperkirakan mencapai 10 ton. Capaian ini menjadi bagian dari pemanfaatan lahan secara produktif melalui program ketahanan pangan yang sekaligus melibatkan warga binaan dalam kegiatan pertanian bernilai ekonomi.

Secara keseluruhan, Rutan Situbondo mengelola lahan seluas empat hektare untuk program tersebut. Tiga hektare lainnya masih ditanami jagung dengan usia tanaman sekitar 30 hari, sehingga proses budidaya terus berjalan dan berpotensi menghasilkan panen pada tahap berikutnya.

Keterlibatan warga binaan dalam kegiatan pertanian memberikan kesempatan untuk mempelajari proses kerja secara langsung. Mulai dari merawat tanaman hingga terlibat dalam kegiatan produksi, pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kedisiplinan, ketekunan, kemampuan bekerja sama, serta pemahaman mengenai nilai ekonomi dari sebuah pekerjaan.

Program ini sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan keterampilan yang berpotensi dimanfaatkan setelah warga binaan menyelesaikan masa pidana. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, aktivitas pertanian diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan di dalam rutan, tetapi menjadi bekal untuk membuka peluang kerja maupun usaha di kemudian hari.

Premi Disalurkan Melalui BRI, Transparansi Menjadi Prioritas

Selain panen raya, kegiatan tersebut diisi dengan pemberian premi kepada warga binaan yang berkontribusi dalam program pertanian. Pemberian premi menjadi bentuk apresiasi atas keterlibatan mereka dalam mendukung kegiatan produktif di Rutan Situbondo.

Penyaluran dilakukan melalui kerja sama dengan BRI Cabang Situbondo menggunakan mekanisme transfer langsung ke rekening penerima. Sistem ini diterapkan untuk mendukung transparansi dan akuntabilitas penyaluran premi.

Anggota keluarga warga binaan yang turut berkontribusi dalam kegiatan tersebut juga memperoleh upah. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi dalam kegiatan produktif mendapatkan penghargaan, sekaligus memperkuat nilai tanggung jawab dan penghormatan terhadap hasil kerja.

Pemberian premi diharapkan mampu meningkatkan motivasi warga binaan untuk terus mengikuti kegiatan pembinaan. Lebih dari itu, pengalaman bekerja dalam kegiatan pertanian dan memperoleh imbalan dapat menjadi pembelajaran mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, serta pentingnya mengelola penghasilan secara bijak.

Kusnali: Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Mengejar Hasil Panen

Kakanwil Ditjenpas Jawa Timur, Kusnali, menegaskan bahwa program ketahanan pangan harus terus dikembangkan agar memberikan manfaat nyata bagi warga binaan.

“Program ketahanan pangan bukan sekadar menghasilkan panen, tetapi juga membangun keterampilan, tanggung jawab, dan kemandirian warga binaan sebagai bekal saat kembali ke tengah masyarakat,” ujar Kusnali.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pembinaan tidak semata-mata terletak pada jumlah hasil pertanian. Aspek yang tidak kalah penting ialah kemampuan warga binaan dalam mengembangkan keterampilan, membangun etos kerja, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kembali ke lingkungan sosialnya.

Melalui kegiatan produktif, warga binaan diharapkan memperoleh pengalaman yang dapat menjadi modal untuk bekerja, mengembangkan usaha, maupun berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Dengan demikian, program ketahanan pangan tidak hanya memiliki nilai produksi, tetapi juga nilai pembinaan yang berorientasi pada perubahan perilaku dan kesiapan menjalani kehidupan secara lebih mandiri.

Sinergi Lintas Sektor Perkuat Program Pembinaan

Kehadiran Perum Perhutani KPH Bondowoso, BRI Cabang Situbondo, dan jajaran UPT Pemasyarakatan wilayah Jember menjadi bagian dari dukungan berbagai pihak terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

Sinergi lintas sektor diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan program, baik dalam pengelolaan kegiatan pertanian maupun dalam penerapan mekanisme penyaluran premi yang transparan dan akuntabel.

Ke depan, pengembangan program ketahanan pangan membutuhkan pengelolaan lahan yang konsisten, pemeliharaan tanaman, pendampingan teknis, serta perencanaan pemanfaatan hasil panen. Langkah tersebut penting agar kegiatan pertanian dapat terus memberikan manfaat dan menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang berkesinambungan.

Di sisi lain, peningkatan keterampilan warga binaan perlu terus menjadi perhatian agar pengalaman yang diperoleh selama mengikuti program dapat diterapkan ketika mereka kembali ke masyarakat.

Dari Hasil Panen Menuju Harapan Baru

Panen raya jagung DEKALB 95R di Rutan Situbondo dengan perkiraan produksi 10 ton dari satu hektare menjadi gambaran pemanfaatan kegiatan pertanian sebagai sarana pembinaan produktif. Dengan total lahan mencapai empat hektare, program tersebut memiliki potensi untuk terus dikembangkan sesuai dengan pengelolaan dan kebutuhan yang ada.

Pemberian premi melalui transfer rekening serta keterlibatan warga binaan dan anggota keluarga yang berkontribusi memperlihatkan upaya menghubungkan kegiatan produktif dengan penghargaan terhadap kerja.

Namun, capaian yang paling penting bukan hanya jagung yang berhasil dipanen, melainkan keterampilan dan sikap mandiri yang dapat tumbuh melalui proses pembinaan. Warga binaan diharapkan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat.

Melalui program ketahanan pangan ini, Rutan Situbondo turut memperkuat pesan bahwa pemasyarakatan harus memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk memperbaiki diri, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Sejalan dengan semangat “PASTI Bermanfaat untuk Masyarakat”, ketahanan pangan menjadi lebih dari sekadar urusan produksi: program ini merupakan bagian dari upaya membangun keterampilan, menumbuhkan tanggung jawab, dan membuka jalan menuju kemandirian warga binaan (Dd).

Tagged:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp