SIDOARJO –PORTAL SATU ID Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi yang membatasi kebebasan, semangat untuk berubah dan memperbaiki diri terus tumbuh. Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah dimanfaatkan Rumah Tahanan Kelas I Surabaya sebagai sarana memperkuat pembinaan kepribadian berbasis spiritual bagi warga binaan pemasyarakatan melalui kegiatan tausiyah dan doa bersama yang berlangsung khidmat di Masjid At-Taubah, Selasa (16/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bukti nyata bahwa proses pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada pembinaan kedisiplinan dan penegakan aturan, tetapi juga menyentuh aspek yang lebih mendasar, yakni pembentukan karakter, penguatan mental, serta pembinaan spiritual sebagai bekal warga binaan untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih baik di tengah masyarakat.
Ratusan warga binaan tampak memenuhi Masjid At-Taubah dengan penuh ketenangan dan kekhusyukan. Mereka mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan serius, mulai dari tausiyah keagamaan, doa bersama, hingga refleksi diri yang menjadi inti peringatan Tahun Baru Islam di lingkungan rutan.
Kegiatan religius tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Seksi Pelayanan Tahanan, Muhammad Ridla Gorjie, bersama jajaran petugas Rumah Tahanan Kelas I Surabaya. Kehadiran para petugas tidak sekadar menjalankan tugas pengawasan, tetapi juga menjadi bentuk dukungan moral terhadap proses pembinaan yang sedang dijalani para warga binaan.
Momentum pergantian tahun dalam kalender Hijriah sengaja dipilih sebagai ruang introspeksi dan perenungan. Dalam suasana yang penuh nilai religius, warga binaan diajak memahami makna hijrah secara lebih mendalam, yaitu perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik, meninggalkan kesalahan masa lalu, serta membangun komitmen baru untuk masa depan yang lebih bermakna.
Pihak Rutan Kelas I Surabaya meyakini bahwa pembinaan berbasis spiritual memiliki peran strategis dalam proses pemulihan karakter warga binaan. Melalui pendekatan agama, para peserta diharapkan mampu meningkatkan kesadaran diri, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan optimisme untuk menjalani kehidupan yang lebih positif setelah menyelesaikan masa pidana.
Suasana haru dan khusyuk menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan. Doa-doa yang dipanjatkan bersama menjadi simbol harapan baru bagi para warga binaan yang tengah menjalani proses pembinaan. Bagi sebagian dari mereka, momen tersebut menjadi kesempatan untuk merenungkan perjalanan hidup, memohon ampunan atas kesalahan yang pernah dilakukan, sekaligus memperkuat tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, menegaskan bahwa pembinaan spiritual merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pemasyarakatan modern yang mengedepankan pendekatan humanis dan berorientasi pada perubahan perilaku.
Menurutnya, setiap warga binaan memiliki hak yang sama untuk memperoleh pembinaan yang layak, termasuk pembinaan keagamaan yang dapat membantu membentuk mental dan karakter yang lebih kuat. Karena itu, berbagai program kemanusiaan dan kegiatan religius akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari proses pembinaan yang komprehensif.
“Kami ingin memastikan bahwa seluruh warga binaan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri. Pembinaan spiritual menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran, memperkuat mental, dan menumbuhkan optimisme agar mereka siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Lebih lanjut, pihak rutan menilai bahwa keberhasilan pemasyarakatan tidak hanya diukur dari berjalannya masa pidana, tetapi juga dari kemampuan warga binaan untuk berubah, belajar dari masa lalu, dan kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif serta bertanggung jawab.
Melalui kegiatan keagamaan seperti ini, Rutan Kelas I Surabaya berupaya menciptakan lingkungan pembinaan yang tidak hanya aman dan tertib, tetapi juga memberikan ruang bagi tumbuhnya nilai-nilai moral, kesadaran spiritual, serta semangat perubahan dalam diri setiap warga binaan.
Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Masjid At-Taubah akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial tahunan. Kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa harapan, perbaikan diri, dan kesempatan untuk memulai lembaran baru tetap terbuka bagi siapa pun, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pembinaan di balik jeruji besi.
Dengan semangat hijrah yang diusung dalam peringatan tersebut, Rutan Kelas I Surabaya berharap seluruh warga binaan mampu menjadikan masa pembinaan sebagai titik balik kehidupan. Sebab di balik setiap proses pembinaan, tersimpan harapan besar agar mereka kelak kembali ke tengah masyarakat dengan karakter yang lebih baik, mental yang lebih kuat, serta tekad untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, lingkungan, dan bangsa (Dd).






