Home / PEMERINTAHAN / Dari Kelor dan Labu Jadi Puding, Rutan Gresik Siapkan Bekal Kemandirian Warga Binaan

Dari Kelor dan Labu Jadi Puding, Rutan Gresik Siapkan Bekal Kemandirian Warga Binaan

GRESIK —PORTAL SATU ID Upaya membangun kemandirian warga binaan terus dilakukan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gresik, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur. Bukan hanya melalui pembinaan rutin, tetapi juga dengan memberikan keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal ketika warga binaan kembali ke tengah masyarakat.

Langkah tersebut diwujudkan melalui pelatihan pembuatan puding yang digelar di Aula Rutan Gresik, Rabu (16/9). Kegiatan ini menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkenalkan keterampilan pengolahan pangan kepada warga binaan.

Bahan yang digunakan pun cukup sederhana, yakni kelor dan labu kuning. Kedua bahan tersebut diolah menjadi puding melalui sejumlah tahapan, mulai dari persiapan hingga penyajian.

Pemilihan bahan tersebut memberikan pengalaman baru bagi warga binaan dalam mengolah bahan pangan menjadi produk makanan yang memiliki nilai tambah. Keterampilan tersebut juga dapat dikembangkan sesuai kreativitas dan potensi masing-masing warga binaan.

Pelatihan turut didampingi peserta MagangHub dan mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Pendampingan membuat proses pembelajaran berlangsung secara langsung dan interaktif.

Sebelum praktik, warga binaan terlebih dahulu menyimak penjelasan serta demonstrasi mengenai bahan dan teknik pembuatan puding kelor serta labu kuning. Peserta juga mencatat berbagai tahapan yang disampaikan agar dapat memahami proses secara runtut.

Tahapan tersebut meliputi persiapan bahan, pengolahan, pencampuran, proses memasak hingga penyajian. Setelah mendapatkan penjelasan, warga binaan kemudian diberi kesempatan mempraktikkan sendiri pembuatan puding dengan pendampingan.

Kepala Rutan Gresik, Dhimas Isdwiyono, mengatakan pembinaan keterampilan merupakan bagian penting dalam proses pembinaan warga binaan. Menurutnya, kemampuan yang diperoleh selama berada di Rutan diharapkan dapat memberikan manfaat ketika warga binaan telah menyelesaikan masa pidana dan kembali bersama keluarga.

“Saya berharap teman-teman warga binaan mengikuti pelatihan ini dengan baik karena kegiatan ini dapat menambah nilai positif dalam kehidupan, terutama dalam keterampilan pembuatan puding. Kelak saat bebas, keterampilan yang didapatkan ini bisa dipakai untuk menunjang kehidupan bersama dengan keluarga,” ujar Dhimas.

Ia menjelaskan, kegiatan keterampilan tidak sekadar diarahkan untuk mengisi waktu dengan aktivitas produktif. Lebih jauh, pelatihan menjadi sarana pembelajaran untuk membangun rasa percaya diri, kreativitas, dan kemandirian warga binaan.

Dengan semakin banyak keterampilan yang dikuasai, warga binaan diharapkan mempunyai kemampuan praktis yang dapat dikembangkan sesuai potensi serta kebutuhan masing-masing setelah kembali ke masyarakat.

Program pembinaan kemandirian di Rutan Gresik pun terus diarahkan agar warga binaan mendapatkan pengalaman yang memiliki nilai guna. Pelatihan pengolahan pangan menjadi salah satu bentuk pembekalan yang dapat memberikan wawasan mengenai proses produksi sekaligus membuka pemahaman tentang peluang pengembangan keterampilan.

Melalui kegiatan tersebut, Rutan Gresik menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pembinaan yang berorientasi pada produktivitas dan kemandirian.

Bekal keterampilan yang diperoleh selama menjalani pembinaan diharapkan dapat menjadi modal positif bagi warga binaan untuk membangun kembali kehidupan bersama keluarga, berintegrasi dengan lingkungan masyarakat, serta mengembangkan kemampuan yang dimiliki sebagai salah satu sumber penghidupan setelah bebas (Dd).

Tagged:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp