GRESIK, — PORTAL SATU ID Program pembinaan warga binaan membutuhkan pendekatan yang tepat sasaran. Karena itu, kondisi, latar belakang, kebutuhan, hingga kesiapan setiap individu menjadi bagian penting yang harus dipetakan sebelum menentukan program lanjutan.
Prinsip tersebut diterapkan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gresik, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, melalui Asesmen Rehabilitasi dan Re-Edukasi yang dilaksanakan bersama Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gresik dan Balai Pemasyarakatan Kelas I Surabaya, Rabu (7/10).
Kegiatan tersebut sekaligus dirangkai dengan tes urine terhadap warga binaan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemetaan kondisi warga binaan sekaligus memastikan pelaksanaan pembinaan berjalan secara aman, terarah, dan berkelanjutan.
Asesmen dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk memetakan kebutuhan, kondisi, serta kesiapan warga binaan sebelum mengikuti program pembinaan lanjutan.
Setiap Warga Binaan Memiliki Kebutuhan Berbeda
Dalam proses asesmen, petugas menggali berbagai informasi mengenai kondisi dan kebutuhan masing-masing warga binaan.
Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah aspek yang diperlukan untuk memahami karakteristik peserta. Informasi tersebut kemudian menjadi bahan untuk memberikan gambaran mengenai program yang paling sesuai selama warga binaan menjalani masa pidana.
Pendekatan ini penting agar program rehabilitasi maupun re-edukasi tidak diberikan secara seragam. Sebaliknya, program diharapkan dapat disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan kesiapan masing-masing individu.
Data yang diperoleh dari asesmen selanjutnya menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan dan penentuan program pembinaan.
Dengan pola tersebut, pembinaan diharapkan tidak sekadar menjadi rangkaian kegiatan rutin, tetapi memiliki arah yang lebih jelas berdasarkan hasil penilaian terhadap kebutuhan warga binaan.
11 Warga Binaan Jalani Tes Urine
Selain asesmen, Rutan Gresik bersama BNNK Gresik juga melakukan tes urine terhadap 11 warga binaan.
Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai bagian dari deteksi dini sekaligus mendukung terciptanya lingkungan pemasyarakatan yang kondusif bagi pelaksanaan pembinaan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh 11 warga binaan dinyatakan negatif.
Hasil tersebut menjadi salah satu indikator pendukung dalam pelaksanaan pembinaan. Pada saat yang sama, pemeriksaan tersebut memperlihatkan komitmen Rutan Gresik bersama mitra terkait dalam menjaga lingkungan pemasyarakatan dari penyalahgunaan narkotika.
Tes urine juga melengkapi proses asesmen sehingga kondisi peserta dapat dipetakan dengan lebih baik sebagai bagian dari pelaksanaan program pembinaan.
Dhimas: Program Harus Sesuai Kondisi dan Kesiapan
Kepala Rutan Gresik Dhimas Isdwiyono mengatakan, proses asesmen dilakukan dengan melihat kondisi warga binaan secara menyeluruh.
Menurutnya, hasil penilaian tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan bentuk rehabilitasi dan re-edukasi yang diberikan pada tahap berikutnya.
«“Kami melihat kondisi dan kebutuhan masing-masing individu secara menyeluruh. Hasil asesmen nantinya membantu menentukan program yang paling sesuai dengan kondisi dan kesiapan mereka,” kata Dhimas.»
Pendekatan tersebut menempatkan hasil asesmen sebagai bagian penting dalam menentukan arah pembinaan. Dengan pemetaan yang lebih komprehensif, program yang diberikan diharapkan dapat lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing warga binaan.
Tiga Institusi Bersinergi Perkuat Pembinaan
Pelaksanaan kegiatan melibatkan Rutan Gresik, BNNK Gresik, dan Balai Pemasyarakatan Kelas I Surabaya.
Sinergi ketiga institusi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pembinaan yang berbasis kebutuhan dan hasil penilaian. Kolaborasi juga diharapkan memperkuat proses identifikasi terhadap kondisi warga binaan sebelum menentukan program rehabilitasi maupun re-edukasi.
Bagi Rutan Gresik, asesmen menjadi salah satu pijakan penting untuk memastikan program pembinaan memiliki arah dan sasaran yang jelas.
Pendekatan berbasis asesmen juga diharapkan mendukung proses perubahan perilaku secara bertahap, sekaligus membantu mempersiapkan warga binaan agar lebih siap menghadapi kehidupan ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.
Dengan demikian, asesmen bukan sekadar tahapan administratif atau pemeriksaan semata. Hasilnya menjadi bagian dari proses menentukan program pembinaan yang tepat, humanis, terarah, dan berkelanjutan, sesuai kondisi serta kesiapan setiap warga binaan (Dd).






