SIDOARJO — PORTAL SATU ID Di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya, terdapat rangkaian pelayanan dan pembinaan yang belum tentu dipahami masyarakat secara utuh. Pengalaman itulah yang diperoleh 10 siswi SMP Islam Terpadu Al Ibrah Gresik saat mengikuti kunjungan edukasi dengan didampingi seorang guru, Senin (12/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk melihat langsung bagaimana sistem pemasyarakatan dijalankan, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar warga binaan hingga program pembinaan keterampilan sebagai bekal untuk kembali ke masyarakat.
Didampingi petugas pemasyarakatan, rombongan meninjau sejumlah fasilitas di lingkungan Rutan Surabaya. Mereka melihat proses pengolahan makanan di dapur, pelayanan kesehatan di poliklinik, serta berbagai aktivitas pembinaan kemandirian yang berlangsung di ruang bimbingan kegiatan.
Di lokasi pembinaan, para siswi menyaksikan secara langsung aktivitas keterampilan yang diikuti warga binaan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kemampuan dan kemandirian agar warga binaan memiliki kesiapan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
Para peserta juga menelusuri alur pelayanan dan berinteraksi dengan petugas di lapangan. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang lebih konkret mengenai tanggung jawab petugas pemasyarakatan dalam menjalankan pelayanan sekaligus mendukung proses reintegrasi sosial.
Sebelum berkunjung, para siswi memandang rutan hanya sebagai tempat pemberian hukuman bagi pelaku kejahatan. Namun, setelah melihat langsung berbagai fasilitas dan program yang tersedia, pandangan mereka menjadi lebih luas. Mereka memperoleh gambaran bahwa pelaksanaan pemasyarakatan juga mencakup perawatan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta pembinaan yang berorientasi pada kesiapan warga binaan untuk kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, menerima langsung rombongan di area rutan. Ia menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap kunjungan edukasi sebagai sarana memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat mengenai tugas dan fungsi pemasyarakatan.
“Kegiatan ini merupakan sarana edukasi bagi masyarakat terkait bagaimana proses pemasyarakatan berjalan,” ujar Tristiantoro saat mendampingi kunjungan tersebut.
Ia menjelaskan, rutan tidak hanya menjalankan fungsi penahanan, tetapi juga memberikan pelayanan kesehatan, menyediakan makanan sesuai standar, serta menyelenggarakan pembinaan keterampilan bagi warga binaan.
Pembinaan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi warga binaan untuk mengembangkan kemandirian dan mempersiapkan diri ketika kembali ke lingkungan sosial setelah masa pidana berakhir. Dengan demikian, proses pemasyarakatan tidak berhenti pada pembatasan kebebasan, tetapi turut memperhatikan kesiapan seseorang untuk menjalani kehidupan berikutnya.
Kegiatan edukasi SMP Islam Terpadu Al Ibrah Gresik ini sekaligus memperlihatkan pentingnya keterbukaan lembaga pemasyarakatan dalam membangun pemahaman publik. Melalui pengamatan langsung, para pelajar dapat mengenali perbedaan antara fungsi penahanan dan proses pembinaan yang berlangsung di dalam rutan.
Bagi generasi muda, pengalaman tersebut juga menjadi pembelajaran tentang tanggung jawab hukum, pentingnya keterampilan, dan kesempatan memperbaiki diri. Pemahaman yang lebih menyeluruh diharapkan mampu menumbuhkan pandangan yang objektif terhadap sistem pemasyarakatan dan proses reintegrasi sosial.
Melalui kunjungan ini, Rutan Kelas I Surabaya memperkenalkan sisi lain pelaksanaan tugas pemasyarakatan kepada masyarakat, khususnya kalangan pelajar. Keterbukaan tersebut menjadi langkah edukatif untuk menjelaskan bahwa pelayanan dan pembinaan merupakan bagian penting dari tanggung jawab pemasyarakatan.
Sebab, keberhasilan pemasyarakatan bukan semata-mata tentang menjalankan penahanan, melainkan juga tentang mempersiapkan warga binaan agar memiliki bekal untuk kembali hidup mandiri dan berintegrasi dengan masyarakat (Dd).






