Home / PEMERINTAHAN / Bapas Surabaya Jadikan Pembinaan sebagai Jembatan, dari Rutan Perempuan Menuju Kemandirian

Bapas Surabaya Jadikan Pembinaan sebagai Jembatan, dari Rutan Perempuan Menuju Kemandirian

SIDOARJO — PORTAL SATU ID Pembinaan pemasyarakatan bukan sekadar proses yang berlangsung di balik tembok rutan. Di dalamnya terdapat upaya panjang untuk membangun keterampilan, menumbuhkan kepercayaan diri, dan mempersiapkan warga binaan serta klien agar mampu kembali menjalani kehidupan secara produktif di tengah masyarakat.

Semangat tersebut ditunjukkan Bapas Kelas I Surabaya bersama Rutan Perempuan Kelas IIA Surabaya melalui konsep “Dua Ruang, Satu Semangat Pemasyarakatan”. Konsep pembinaan dan pemberdayaan itu diperlihatkan secara langsung kepada Plt. Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Ms. Christine Bui, dalam kunjungan pada 10 September 2026.

Kunjungan diawali di Rutan Perempuan Kelas IIA Surabaya. Ms. Christine Bui melihat secara langsung berbagai kegiatan pembinaan yang dilakukan bagi warga binaan. Rombongan juga berinteraksi dengan warga binaan serta melihat sejumlah hasil karya yang dihasilkan dari proses pembinaan.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan diarahkan untuk menggali potensi dan meningkatkan keterampilan. Hasil karya yang dihasilkan juga menjadi bagian dari proses membangun rasa percaya diri warga binaan sebagai bekal ketika nantinya kembali ke masyarakat.

Rangkaian kunjungan kemudian berlanjut ke Griya Abhipraya Surabaya, yang menjadi ruang pembimbingan sekaligus pemberdayaan bagi klien Bapas Kelas I Surabaya.

Di Griya Abhipraya, berbagai karya klien turut diperkenalkan. Produk kerajinan rajut menjadi salah satu karya yang menonjol karena telah dipasarkan hingga mancanegara. Selain itu, karya dalam bentuk buku yang lahir melalui proses pembimbingan juga turut diperlihatkan.

Proses pemberdayaan juga dilakukan melalui aktivitas produktif. Salah satunya kegiatan panen sayuran yang memberikan kesempatan kepada klien untuk belajar menjalankan kegiatan yang menghasilkan sekaligus membangun kebiasaan produktif.

Untuk memperkuat kesiapan ekonomi, Bapas Kelas I Surabaya juga menggandeng Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dalam pelatihan kewirausahaan.

Dalam kegiatan tersebut, klien mendapatkan pelatihan membuat roasted milk tea. Mereka tidak hanya mempelajari proses pembuatan produk, tetapi juga memahami cara menghitung biaya produksi serta menentukan harga jual.

Bekal tersebut diharapkan mampu memberikan dasar bagi klien untuk mengembangkan usaha secara mandiri sekaligus memperkuat kesiapan mereka saat kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Kepala Bapas Kelas I Surabaya, Ruspriyatno, menegaskan komitmen untuk memberikan pelayanan dan pembimbingan dengan sepenuh hati. Menurutnya, proses pembimbingan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi klien, termasuk melalui penguatan keterampilan, produktivitas, dan kepercayaan diri.

Konsep “Dua Ruang, Satu Semangat Pemasyarakatan” menjadi gambaran kesinambungan proses tersebut. Rutan menjadi ruang pembinaan, sedangkan Griya Abhipraya menjadi ruang penguatan kapasitas dan kemandirian klien.

Kunjungan tersebut juga memperlihatkan bahwa pemasyarakatan terus bergerak menuju pendekatan yang lebih humanis dan produktif. Warga binaan dan klien diberikan ruang untuk belajar, berkarya, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan diri agar mampu kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.

Sebab, keberhasilan pemasyarakatan tidak hanya diukur dari selesainya masa pembinaan, tetapi juga dari kemampuan seseorang untuk bangkit, berkarya, mandiri, dan kembali menemukan perannya di tengah masyarakat (Dd).

Tagged:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp